RSS
Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

An Introduction to Normal and Abnormal Child Behavior

Source : Erick J. Mash & David A Wolfe (2013)

apakah gangguan psikologis itu?
gangguan psikologis menunjukkan pola simpton perubahan kognitif, emosi, fisik yang ditunjukkan seseorang berhubungan dengan :
- menujukkan tingkat distress
-memperlihatkan disabilitas, menganggu fungsi area yang penting
-setiap kesulitad dan disabilitas akan meningkatkan resiko penderitaan.

kondisi ini tidak disebabkan hal-hal yang bersifat sementara, maka dari itu ada hal-hal yang harus diperhatikan :
-whose problem it is?
-many child and adoloscene problems involve failure to show expected developmental progress
-many problem behaviors shown by children and youths are not entirely abnormal
-interventions for children and adoloscent often are intended to promote further development rather that merely to restore a previous level of funtions.

mendefinisikan abnormal

a. Label
label menggambarkan perilakunya bukan orangnya. keabnormalan dipicu oleh stigama ( sikap dan keyakinan). perlu menghindari kekeliruan dalam mengidentifikasi disorders.stigma merujuk pada satu set sikap dan belief negatif yang memicu rasa takut, penolakan, penghindaran dan diskriminasi terhadap mereka yang menderita mental illness. stigma membuat seseorang menderita self esteem yang rendah, hopelessness, isolasi. selain itu reaksi yang ditampilkan oleh beberapa anak juga mungkin hasil mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka, seperti anak yang harus ikut treatment harus menyesuaikan dirinya dengan treatment. yang perlu diingat adalah penggunaan istilah untuk menggambarkan disorder atau abnormal. istilah istilah tersebut belum tentu merujuk pada penyebab yang sama mengetahui bahwa penyabab dari perilaku abnormal adalah multifaceted dan interactive.

b,  kompetensi
apa yang dimaksud dengan keberhasilan adaptasi?
bagaimana agar tahu? develpmental tasks -> memberikan landasan penting unuk memastikan apaka seseorang anak (remaja) mengalami kemajuan atau gangguan dalam perkembangan. kompetensi tercermin dari bagaimana anak memanfaatkan sumber daya internal atau eksternal untuk dapat bisa beradaptasi dengan lingkungannya. keberhasilan adaptasi sendiri beragam sesuai dengan buday,tradisi dan lingkungan anak itu tinggal. sebagai contoh :

infancy to preschool :
-mengembangkan kedekatan dengan figur yang merawatnya
-bahasa
-self control

middle childgood :
-penyesuaian dengan sekolah
-pencapaian prestasi akademis
-berteman dengan teman sebaya

adolescene :
-sukses beranjak ke tingkat sekolah yang lebih tinggi
-keberhasilan akademis ( untuk kerja )
-membentuk identitas yang kohesif

c. developmental pathways.
jalur perkembangan apa saja yang terjadi selama masa perkembangannya? rangkaian saat-saat disepanjang masa diaman psikopatalogi berkembang. developmental pathways membantu menjelaskan arah dan karakteristik perkembangan normal dan abnormal

- multifinality-> perlakuan yang sama memberikan hasil yang berbeda.

                         


- equifinality -> satu hal bisa dihasilkan dari perlakuan yang berbeda. 

keragaman anak dalam mencapai kekuatan dan kelemahan psikologis akan menjadi penanda bagi psikologi abnormal, karena tidak ada hubungan sebab akibat yang jelas untuk setiap gangguan pada anak dan remaja. 
beberapa asumsi yang perlu diingat : 
-banyak faktor yang berpengaruh pada kemunculan gangguan  anak
-faktor yang berkontribusi berbeda beda tiap individu
-individu dengan gangguanyang sama akan menujukkan ciri dari gangguan yang dimiliki secara berbeda
-pathways mereka banyak dan interaktif

kenapa dua hal ini bisa berbeda? 

jawabannya berkaitan dengan faktor resiko dan faktor proteksi 

faktor resiko : variabel yang mengawali munculnya luaran negatif (gangguan) dan akan meningkatkan peluang hal tersebut akan terwujud 

a. constitutional 
hereditas, abnormalitas, genetik, komplikasi prenantal, penyakit, gizi buruk, perawatan kesehatan yang tidak memadai. 
b. family 
kemiskinan, diartikan/diasosiasikan dengan konflik stress, keluarga besar. 
c. emotional dan interpersonal
self esteem rendah, ketidakmatangan, emosional, temperamen sulit, penolakan peers, tidak kompeten secara sosial. 
d. intelectual dan academic
kecerdasan dibawah rata-rata, disabilitas belajar, kegagalan akademis. 
e. ecological
lingkungan terdekat yang buruk, kriminalitas, rasial, etnik, diskriminasi gender. 
f. non-normative stressful life events 
kematian orang yang disayang, perang dll

protective factor : variabel situasional atau pribadi yang akan mengurangi peluang anak mengembangkan gangguan 

a. individual 
kecerdasan, ramah, rajin, beriman
b. family 
otoritatif, mendukung
c. school and community 
ada orang yang peduli dengan anak-anak, bersekolah di institusi yang baik, terhubung dengan organisasi sosial yang baik. 

faktor faktor yang mempengaruhi Child Mental Disorders 

1. kemiskinan -> ortu lebih fokus cari duit sehingga kurang memperhatikan anak
2. peran gender -> pola asuh orang tuan, ortu memperlakukan anak berbeda antara anak perempuan dan laki-laki
3.ras, etnis, budaya -> apa yang normal dalam satu daerah belum tentu normal di daerah lainnya. 
4. child maltreatment -> tindakan kurang tepat yang diberikan pada anak. perlakuan kasar pada anaka yang membuat anak takut. 

grafis and inside it

pertama kali ngambil grafis, bodoh juga sih kalau dipikir pikir ngambil 4 praktikum dalam satu semester. ngambil 2 kayak semester lalu aja udah engap..
tapi setelah dicoba ternyata grafis itu praktikum yang cukup menyenangkan, 
ngga, nilai aku ga terlalu bagus di matkul itu, nilai aku di praktikum yang lain yang ga terlalu aku suka malah  lebih bagus bagus dibanding grafis. 

kelasnya kecil, cuma ada satu kelas karena emang itu praktikum yang seharusnya diambil semester depan, tapi justru karena kelasnya cuma satu dan kecil jadi enak, gatau kenapa enak aja hahaha ga terlalu kenal ama mereka yang sekelas sih, emang bawaan kepribadian yang malas buat kenalan sama orang baru. 

materinya ga garing, karena dosen banyak ngasih contoh dan kalu ngejelasin berulang-ulang jadi lumayan ngerti tapi entah kenapa nilai tugas observasi selalu jelek. entah salah dimana u.u 

tempat duduk paling depan, jadi kalau telat masuk kelas kalimat saktinya adalah "tenang aja me, ga ada yang mau ambil tempat kita" ...ada untungnya juga duduk di depan, kalau hasil gambar gitu kita suka ditunjukkin yang pertama, tapi gaenanknya kenapa kalau absen selalu terkahir -__- pernah jadi yang pertama absen, sempat ga percaya "me, kita absen pertama" rasanya janggal--- 

sekian dari kelas grafis. 

Mengerti Anak dengan Autisme

beberapa anak terlahir dengan gangguan perkembangan, yang paling terkenal mungkin adalah autis, apa sih autisme itu? bagaimana kita harus berinteraksi dengan mereka? 


Autism adalah gangguan perkembangan  yang signifikan, yang mempengaruhi komunikasi verbal dan nonverbal, interaksi sosial dan performa pembelajaran siswa. Secara umum muncul sebelum anak mencapai usia tiga. Secara tipikikal anak melakukan aktivitas repetitive dan gerakan-gerakan stereotypes, menolak perubahan lingkungan atau perubahan dalam kegiatan sehari-hari dan menunjukkan respon yang tidak biasa terhadap pengalaman sensori. Seorang siswa bisa saja tidak diklasifikasikan sebagai pengidap autis jika performa belajarnya secara negatif dipengaruhi oleh terutama gangguan emosi yang serius.
            Autism adalah betuk yang lebih parah dari grup gangguan yang lebih luas, mengacu pada gangguan perkembangan pervasive (Hyman & Towbin, 2007; Thompson, 2007) DSM-IV-TR, termasuk, sebagai bagian dari gangguan perkembangan pervasive, lima diskrit kondisi yang mereka miliki pada masa kanak-kanak adalah (APA,2000) : gangguan autistic, gangguan Rett, gangguan disintegrative pada masa kanak-kanak, gangguan asperger dan gangguan perkembangan pervasive. Pembelajar biasanya menggunakan istilah autism spectrum disorder.
Mendeskripsikan Karakteristik
Autism mempunyai enam karakteristik pembeda :
1.      Perkembangan Bahasa atypical
2.      Perkembangan sosial atypical
3.      Tingkah laku repetitive
4.      Masalah tingkah laku
5.      Gangguan sensory dan pergerakan, dan
6.      Perbedaan dalam fungsi intelektual

1.      Perkembangan Bahasa atypical
Siswa dengan autism memiliki kemampuan bahasa yang luas, muali dari komunikasi non verbal ke komunikasi yang kompleks.  (Myles et al., 2003; National Research Council, 2001) Mereka biasanya memiliki beberapa keburukan dalam berbahasa.
Lebih dari dua decade yang lalu, para ahli berasumsi bahwa hanya 50 persen dari invidu yang terkena autism akan benar-benar mengembangakn cara bicara yang berguna. (Prizant. 1983) sekarang mereka memperkirakan dari 85 hingga 90 persen anak-anak dengan autismebisa belajar untuk berbicara secara efektif, jika mereka menerima state-of-art-teaching and pendekatan motivasional dan memulai pendidikan mereka sebelum usia 5 tahun (koegel, 2000). Anak-anak dengan autism yang mengembangkan bicara sebelum usia 5 memiliki hasil komunikasi jangka panjang yang menguntungkan. Namun, mereka sering memiliki keterbatasan dalam kemampuan berkomunikasi. Dua tipe gangguan bahasa yang muncul di masa awal anak-anak penderita autism. Yang pertama adalah gangguan yang dikategorisasikan berelasi dengan suara dari pembicaraan dan grammar. Yang lainnya dikategorisasikan oleh gangguan yang berasosiasi dengan komunikasi dan arti dari aspek-aspek dari bahasa. Komunikasi anak-anak dengan autism memerlukan (Landa, 2007) :
-          Fokus hanya pada satu topic
-          Membatasi topik komunikasi lebih sedikit
-          Menggunakan gestures untuk melengkapi kemampuan verbal
-          Membalikkan kata ganti
-          Memalingkan wajah dari pembicara ketimbang menjaga kontak mata
-          Mengulang bahasa orang lain (echolalia)
-          Mengalami kesulitan dalam mau memahami dan mengungkapkan bahasa.

2.      Perkembangan sosial atypical
Tanda lainnya dari anak autism adalah perkembangan sosial atypical- keterlambatan dalam interaksi sosial dan kemampuan sosial. APA memiliki empat kriteria untuk mendiagnosa perkembangan sosial atypical pada penderita autisme :
-          Gangguan tingkah laku non verbal
-          Kurang dalam relasi dengan teman sebaya
-          Kegagalan dalam membagi kesenangan, minat, dan pencapaian dengan orang lain secara spontan.
-          Kurang dalam membalas (tindakan timbal-balik)
Satu penjelasan untuk keterlambatan perkembangan sosial adalah theory of mind. Individu-individu dengan autism tidak mengerti kepercayaan mereka sendiri, keinginan, niat nereka mungkin berbedadari yang lain. Mereka memiliki kesulitan memahami perasaan orang lain, pilihan dan emosi bahkan ketika orang mengatakan secara langsung apa yang mereka rasakan, dan mereka sering tidak mengambil kesimpulan dan mengerti cues sosial dan signal-signal non verbal. Murid dengan autism juga mempunyai kesulitan dalam berempati dengan perasaaan dan emosi orang lain.
Gangguan pada theory of mind siswa sering membuat siswa sulit untuk mengembangkan relasi dengan orang lain. Kamu dapat membantu meningkatkan interaksi sosial dengan menggunakan teknologi untuk mendorong kemampuan sosial dan interaksi sosial mereka.
Siswa dengan sindrom asperger sering memiliki kesulitan dalam berteman, menafsirkan signal sosial, mengerti peraturan tidak tertulis dan tidak takut dalam situasi sosial. Pendekatan berdasarkan kekuatan membangun minat special siswa untuk memotivasi mereka untuk membuat koneksi sosial dan berbicara dengan teman sebaya mereka.

3.      Tingkah laku repetitive
Tingkah laku mengulang gerakan dan verbalisasi. Mencakup juga gerak motorik (menepuk tangan), atensi yang tetap pada satu objek ( cth : baut pada pintu), ketaatan yang ketat pada rutinitas. Tingkah laku ini juga mencakup desakan untuk menjadi sama. Siswa menggunakan tingkah laku repetitive mereka untuk menunjukkan rasa bosan mereka dan level waspada mereka. Jelas, tingkah laku ini bisa menganggu kemampuan mereka untuk belajar dan bergabung dalam satu kerjaan, sekolah dan komunikasi. Secara sederhana, mengurangi tingkah laku repetitive siswa, bagaimanapun juga tidak cukup; meningkatkan komunikasi yang layak dan kemampuan sosial dan aktivitas di waktu luang adalah pendekatan state-of-art-teaching.
Sesuatu yang dapat diprediksi dan terstruktur member rasa aman pada banyak individu dengan autism. Saat prediksi dan struktur mereka diganggu oleh kegiatan seperti liburan sekolah, menginap dirumah teman atau keluarga, perayaan hari-hari besar, perubahan jadwal program televise atau pindah dari satu ruangan kelas ke ruangan lainnya, siswa dapat menjadi sangat cemas. Sebagai tambahan memiliki sesuatu yang tidak semestinya di keseharian mereka berarti sesuatu yang berat untuk beberapa siswa. Kebanyakan dari kita tidak berpikir banyak tentang apakah telpon benar-benar ada diatas meja, apakah kosmetik selalu berada ditempat yang sama di laci kamar mandi, atau apakah pintu terbuka atau tertutup. Namun, pada gangguan seperti ini pola lingkungan tidak signifikan mengganggu banyak siswa dan menghambat kemampuan mereka untuk belajar.
Kamu dapat membatu siswa memprediksi apa yang akan terjadi mengikuti jadwal dan rutinitas dan dengan mengajar mereka strategi untuk menerima perubahan.

4.      Masalah tingkah laku

IDEA mengharuskan pengajar untuk mempertimbangkan penggunaan pembantu tingkah laku positif. Saat siswa diikutsertakan didalam tingkah laku yang menghambat belajar mereka. 4 kategori dari masalah tingkah laku dengan autism, 2 diantaranya  adalah :
-          Self injuries behavior : beberapa individu memiliki tingkah laku menyakiti diri sendiri, seperti membanting kepala, menggigit atau menggaruk. Tingkah laku ini seringkali terus ada hingga dewasa. Individu dengan tingkah laku menyakiti diri sendiri yang berat bisa saja secara permanent menyakiti diri mereka sendiri, terkadang dan biasanya untuk beberapa orang, menyakiti diri sendiri adalah ancaman. Satu dari tingkah laku yang mengancam hidup disebut pica-eating inedible items.
-          Aggression : tingkah laku agresi sama dengan menyakiti diri sendiri, tetapi tingkah laku ditujukan pada orang lain. Tingkah laku agresif bisa menjadi masalah di semua keadaan. Dengan menggunakan positive behavour support, guru memungkinkann siswa untuk belajar lagu-lagu dari tingkah laku yang layak.
Saat siswa sudah belajar tingkah laku alternative  yang layak mereka akan berhenti menggunakan tingkah laku agresif.
Masalah tingkah laku bisa memberikan fungsi komunikasi, memungkinkan siswa untuk medapat sesuatu yang positif, menghindari sesuatu yang kurang menyenangkan, meningkatkan atau menurunkan stimulus sensori, atau mencapai dua tau lebih aturan ini. Memberikan fungsi dari masalah tingkah laku berikan, kamu akan ingin mengajarkan siswamu cara lain untuk mengkomunikasikan ini dan niat lainnya.

5.      Sensory and movement disorder
Anak-anak dan remaja dengan autism dan sindrom asperger sering mengalami gangguan sensori dan pergerakan berhubungan dengan rasa/bau, taktil sensitive, sensitivitas visual/auditory dan level energy. Beberapa memiliki respon kurang  atau berlebihan  terhadap stimulus sensori, walaupun lebih banyak yang memiliki respon berlebihan. Pergerakan juga adalah elemen dari autism. Contoh termasuk gesture abnormal, pergerakan abnormal wajah,kepala, tubuh dan tungkai. Pergerakan mata yang abnormal, gesture dan manner yang diulang dan cara berjalan yang aneh. Kecanggungan motorik dan gangguan  mengenalkan pada individu yang memiliki sindrom asperger.
6.      Perbedaan fungsi intelektual
Autism muncul pada anak dengan berbagai level intelegensi, dari siswa yang berbakat hingga siswa yang diklasifikasikan memiliki keterbelakangan mental. Kira-kiran 65-70persen dari anak-anak dan remaja dengan autism memiliki gangguan intelektual. Individu dengan sindrom asperger, bagaimanapun, cenderung memiliki fungsi intelektual yang lebih tinggi dari individu dengan tipe lain dari  autism. Skor IQ mereka cenderung jatuh di rata-rata dan untuk mengungkapkan keseringan distribusi kesamaan untuk populasi general.

Beberapa orang dengan autism juga menunjukkan savant syndrome yang tidak biasa, dimana mengandung talent yang tidak biasa pada area sperti kalkulasi kalender, kemampuan musikal,kemampuan matematika, mengingat, dan kemampuan mekanik. 

Perspektif Sejarah Penyebab
Ketika autisme pertama kali didiagnosis dan dijelaskan dalam awal 1940-an, orang tua dari anak autis sering dianggap sebagai orang-orang cerdas dari status sosial ekonomi tinggi yang juga "dingin". Pada saat itu, luar biasa, beberapa profesional disebut ibu dari anak autis sebagai "ibu es".
Pada 1970-an, bagaimanapun, peneliti telah menetapkan bahwa autisme disebabkan oleh disfungsi biokimia otak yang terjadi sebelum, selama, atau setelah lahir dan bahwa itu benar-benar diperlukan untuk menyalahkan orang tua. Pada tahun 1977 Perhimpunan Nasional untuk Anak Autis (sekarang tahu sebagai Autism Society of America) menegaskan, "Tidak ada faktor yang dikenal dalam lingkungan psikologis anak telah terbukti menyebabkan autisme." Hari ini orang tua tidak dilihat sebagai penyebab masalah. mereka dianggap sebagai mitra dengan para pendidik, memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah anak-anak. Tidak ada yang tahu mengapa Shawn memiliki autisme.
Penyebab biomedis
Institut Nasional Kesehatan mensponsori jaringan internasional penelitian untuk menemukan penyebab autisme dan pengobatan yang paling efektif (Kau, 2006). Namun banyak yang sudah dikenal. Studi kembar mengungkapkan etiologi genetik yang kuat untuk autisme (Hyman & Towbin 2007, Pickles et al., 2000). Memang, saudara dari anak autis adalah 10 kali lebih mungkin untuk memiliki autisme dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki saudara autisme  (Chakrabarti & Fombonne, 2001). Ada juga tampaknya menjadi hubungan antara peran bahwa vaksin campak, gondok, dan rubella dapat berperan, penelitian saat ini belum didokumentasikan sebab-akibat (Afzal et al, 2006;. Archen, Bhasin, Braun, & Yeargin-Allsopp, 2007; Demicheli, Jefferson, Rivetti, & Price, 2005). Para peneliti kini juga menyelidiki struktur dan fungsi otak pada individu dengan autisme. Beberapa berteori bahwa penyimpangan ukuran otak disebabkan oleh pertumbuhan berlebih otak awal diikuti oleh pertumbuhan yang lambat sehingga ukuran kepala berada dalam kisaran normal dengan masa kanak-kanak tengah (Redcay & Courchesne, 2005). Peneliti lain fokus pada bagaimana neuron berkomunikasi satu sama lain (neurotransmitter berfungsi) (Scott & Deneris, 2005;. Williams et al, 2005). Satu-satunya zat lingkungan yang telah didokumentasikan untuk menghasilkan prevalensi yang lebih tinggi dari autisme adalah beberapa obat yang wanita hamil mungkin diimakan pada awal kehamilan mereka (Hyman & Towbim, 2007). Meskipun ada spekulasi bahwa paparan berbagai bahan kimia dapat menyebabkan autisme, penelitian belum menunjukkan menjadi kasus (Hyman & Towbim, 2007).
beberapa anak terlahir istimewa, maka cara memperlakukan mereka juga haruslah istimewa, yang perlu diperhatikan dari berkomunikasi dengan anak autis adalah, jangan memberi mereka perintah yang berulang,mereka juga mempunyai bagian-bagian sensitif yang tidak mau untuk disentuh. mereka mempunyai dunia mereka sendiri, biarkan mereka bermain, tetapi tetap dijaga. 

they just need to be understood, love your autism friends!

Learning Disabilities





beberapa anak berkembang tidak seperti anak lainnya. mereka terlambat dalam kemampuan membaca dan menulis. ini membuat mereka juga terlambat dalam memahami pelajaran disekolah. 
anak-anak seperti ini juga biasanya memiliki kesulitan dalam berelasi dan mengikuti aturan. karena setiap anak adalah spesial maka kita harus menerima mereka dan mengajari mereka untuk mengatasi kekurangan mereka. 

Learning Disabilites 

Menurut IDEA, kesulitan belajar spesifik (LD) adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih proses–proses psikologis dasar yang terlibat dalam pemahaman atau penggunaan bahasa lisan atau tertulis, yang dimanifestasikan dalam kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengar, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau melakukan perhitungan matematis.
Gambaran Karakteristik
         Membaca: Disebut juga dyslexia. Siswa dengan gangguan disleksia mengalami kesulitan dalam membaca, seperti mengenali jenis huruf dan kata.
Siswa dengan disleksia mengalami kesulitan untuk menyusun atau membaca kalimat dalam berbagai macam urutan, seperti dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak.
         Menulis: Siswa yang tidak memiliki masalah dalam membaca mungkin saja memiliki gangguan dalam menulis (Young and Beitchman, 2007).
Mereka berjuang keras untuk menulis, kesulitan untuk membangun ide secara lancar, tugas yang diberikan memiliki tulisan yang tidak terbaca, dan menyerahkan tugas menulis seadanya. Siswa dengan masalah menulis akan belajar sedikit dari pelajaran yang diberikan karena mereka harus sangat fokus dalam menulis. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk memfokuskan diri terhadap pelajaran yang diberikan.
         Matematika: Siswa dengan gangguan matematika dapat memiliki gangguan :
-      masalah procedural (sering gagal dalam memahami konsep matematis dan kesulitan untuk membuat urutan pemecahan masalah yang kompleks)
-          masalah memori semantik (kesulitan dalam mengingat fakta-fakta seputar matematika)

-       masalah visual-spasial (kesulitan untuk mereproduksi angka). Masalah dalam matematika dapat terjadi bersamaan dengan gangguan membaca atau menulis.

      bagi anak anak ini, huruf-huruf yang terdapat dihadapan mereka menari-nari dan tidak bisa terbaca. 
Penyebab :
      Mekanisme neurologikal
LD dapat terjadi akibat dari disfungsi sistem saraf pusat (Lyon et al, 2001)                  
      Genetik
Sebuah studi di Australia, Skandinavia, dan US menunjukkan bahwa anak-anak preschooler dan anak-anak TK yang kembar dan berjenis kelamin sama memiliki persamaan genetik yang kuat dalam hal kesadaran bunyi dan memori verbal.
      Lingkungan
Ada hubungan antara genetik dan lingkungan. Orang tua yang mengalami kesulitan dalam membaca akan lebih sedikit membacakan sesuatu kepada anak mereka saat anak mereka masih kecil (Lyon et al, 2001).

 Strategi Instruksional yang dapat digunakan untuk Siswa Sekolah Dasar :
Differintiated Instruction : guru menggunakan lebih dari satu metodologi pembelajaran, meningkatkan akses siswa untuk materi pembelajaran dalam berbagai format, memperluas uji pengambilan dan pilihan pengumpulan data, dan berbagai kompleksitas dan sifat konten yang disajikan selama unit pelajaran.
Contoh dari isi kurikulum yang berdiferensiasi:
         Menyediakan visual atau grafik yang disusun untuk menemani presentasi lisan
         Menggabungkan model, demonstrasi, atau role play
         Menggunakan isyarat presentasi guru untuk menekankan titik kunci ( gerak tubuh, visual, verbal)
         membangun konsep penting bahwa siswa harus belajar
         melibatkan siswa degan menerapkan setiap teknik respon pupil murid atau menggabungkan manipulasi untuk dipakai siswa



·         Karakteristik sosial
Sekitar tiga perempat siswa dengan LD mengalami hambatan dalam area sosial (Kavale and Forness, 1996). Area tersebut antara lain (Bryan, Burstein, and Ergul, 2004),
Ø  Memiliki banyak konsep diri yang negatif
Ø  Mengalami emosi negatif lebih sering, termasuk perasaan kesepian.
Ø  Kesulitan dalam mempersepsikan perasaan nonverbal dan emosi orang lain
Ø  Kesulitan dalam mencari solusi yang tepat untuk masalah-masalah sosial
Ø  Kesulitan saat melakukan percakapan dengan orang lain
Ø  Kesulitan dalam membangun pertemanan dan relasi sosial


love your dyslexia friends! 

grief

grief, perasaan yang biasanya timbul dari dalam diri seseorang karena adanya perpisahan untuk sementara atau selamanya dengan orang yang dicintai.
 pada hakekatnya, ada rasa kehilangan, individu memandang dunia serba kelabu dan tidak bernuansa

rasa duka pada anak (menurut penelitian yang dilakukan Roberton dan Bowlby)  :

1. tahap protes : anak menangis sejadi-jadinya menolak pengganti ibu. mereka mulai mengeluh dan menunjukkan tantrum.
2. tahap putus asa : anak menangis diam-diam dan menunjukkan rasa sedih dan gejala-gejala depresif.
3. tahap mandiri : anak mulai tidak peduli,  acuh tak acuh terhadap ibunya.
4. tahap reorganisasi : (hanya pada orang dewasa) bangkit dan menghadapi hidup yang baru.

bagi anak-anak fase 3 adalah fase yang paling berbahaya karena :
- hambatan yang permanent dalam afeksi sehingga jika kedepannya menjalin hubugan dengan orang lain tidak pernah bisa bersifat mendalam.
- selalu menarik diri dan depresif
fase ini juga dihadapi oleh anak yang ketakutan akan ditinggal ibunya setiap saat.

rasa duka pada remaja dan orang dewasa pada umumnya sama seperti diatas, perbedaan rasa duka normal dan neurotis adalah :
1. riwayat kelainan emosional yang panjang.
2. adanya rasa bersalah karena selama orang yang pergi itu hidup, ia memendam rasa marah.

akibatnya :
1. orang mulai merasa sangat tidak berharga
2. berpikir untuk melakukan bunh diri.

rasa sedih yang normal berlangsung sebagai berikut :
1. perasaaan shock
2. mulai mempelajari perpisahan itu, merasa tidak percaya, menangis dan marah sebagai bentuk protes. berakhir dengan pemakaman yang akan membuat orang tersebut menangis.
3. menjadi depresif dan apatis, mengalami insomnia, tidak nafsu makan, menolak bahwa orang tersebut sudah tidak ada lagi.
4. rehabilitasi, mulai bisa beraktivitas walau terkadang rasa sedih itu muncul.

rasa duka yang normal dan abnormal memnag susah dibedakan, tapi dalam duka yang abnormal  terdapat kemarahan yang latent terhadap orang yang meninggal, perasaan bersalah pada orang yang meninggal yang kemudia menimbulkan mekanisme pertahanan diri, yaitu denial.

reaksi terhadap rasa duka menurut psikoanalisa :
1. Sexual Promiscuity, yaitu melakukan hubungan sex dengan banyak orang
2. menarik diri dan menjadi apatis.

menurut psikoanalisa seseorang bisa mengatasi rasa sedihnya, yang penting ialah orang tidak mencoba melupakannyatapi justru membiarkan semua kesedihan iu larut dalam waktu dan hilang dengan sendirinya.

psikologi keluarga

some oh my materi for UTS that I want to share daily, so that i wont get bored too much. as I said I dont like time-to-time activities and i dont like to do something when im not in the mood for it, so lets get started? hehehe
i have to focus, actually this is the first time i dont prepare myself for my midterms, guess im too tired hahaha
meh,

psikologi keluarga...
apasoh keluarga itu?
menurut kamu apa hayooooo?
 keluarga adalah sekolompok orang yang terhubung melalu ikatan pernikahan, darah atau adopsi, membetuk suatu rumah tangga tunggal, saling berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran sosial yang timbal balik antara ayah-ibu, suami-istry, anak perempuan dan anak laki-laki. (burges and locke dalam Duvall, 1977) disini inti keluarga adalah keluarga inti, ayah, ibu dan anak.

keluarag adalah suatu unit sosial yang biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, namun kadang-kadang tanpa kehadiran salah satu anggota keluarga atau adanya anggota keluarga lain. meliputi pula kakek, nenek dan saudar-saudara  bahkan teman ( mC. Cormark dalam Duvall, 1977) disini pengertian keluarga berkembang lebih besar.

kualitas keluarga menuntut :
-kesediaan untuk saling mencintai -> dalam bentuk berbeda
-berusaha untuk saling memahami antar anggota keluarga.
-kesediaan untuk mendampingi disaat susah maupun senang.
keluarga adalah unti sosial yang memberi penghayatan paling kuat terhadap individu mengernai masyarakat dan kestabilan serta rasa aman.

bentuk keluarga dibagi menjadi :
-keluaga inti
-keluarga inti yang dibentuk kembali
-pasutri tanpa anak, atau anak tidak tinggal bersama
-keluarga dengan ortu tunggal
-keluarga besar.

fungsi keluarga (menurut Duvall) :
- memberi afeksi
-memberi rasa aman dan sense of purpose -> anak merasa dihargai
- memberi kepuasan dan  penhayatan diterima secara pribadi
-memberi keyakinan akan kesinambungan dan persahabatan
-menjamin kelangsungan sosial
-menanamkan kontrol tentang apa yang baik dan apa yang salah

peran ortu ( Hoffman, Paris, hall 1994)
- figur identifikasi
-pemberi pengalaman pada anak
-membantu dalam mengembangkan self-cocept anak
-agen sosialisasi
-pemberi kasih sayang dalam asuhan.

semua keluarga harus ( Anderson and Sabatelli, 2003)
-mengembangkan identitas, baik untuk keluarga juga untuk tiap anggota dalam keluarga
-mengembangkan batas (bondaries) antara keluarga dengan lingkungan luar dan juga antar aggota keluarga.
-mengerjakan tugas-tuga rumah tangga
-mengembangkan cara-cara  menangani tugas seseuai dengan tingkat stress yang dialami.

KELUARGA SEBAGAI SISTEM

proses didalam keluarga saling melibatkan pengaruh antar anggota keluarga dan adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi antar anggota keluarga serta relasi diantara mereka maupun lingkungan keluarga. cth : fungsi sistem marital, sistem ortu mempengaruhi anak. dan sistem kakak beradik, semua akan mempengaruhi anak.

relasi fungsi marital yang baik secara langsung atau tidak langsung  menjadi landasan bagi fungsi keluarga yang baik, mempengaruhi interaksi dengan anak-anak.
memilki anak berdapak pada pasutri, yaitu pergeseran ke arah maskulinitas dan feminitas yang tradisional.
sistem keluarga dapat dilihat dari 3 perspektif :
a. secara struktural
melihat hakikat dyadic, ayah-ibu, ibu-anak perempuan dll. maupun hakikat triadic cth ayah-ibu-nenek,dll
b secara fungsional
bagaimana keluarga menciptakan setting fisik untuk keluarga tumbuh. bagaimana merawat anak, melindungi anak, bagaimana afeksi dibuat dan dipelihara. modelling ortu untuk menyiapkan anak yang suskse berelasi di dunia luar.
c. secara perkembangan
melihat tahap-tahap perkembangan keluarga.

mengapa perspektif keluarga dibutuhkan :
intinya sebenarnya ada tiga, secara singkat aja ya
- penyebab dari masalah individual tidak mungkin dilihat hanya dari individu itu sendiri, akan lebih baik jika melihat dimana masalah itu terjadi. melihat dari keluarga yang sedang berada pada posisi tidak seimbang.
-perilaku psikopatalogi biasanya merupakan hasik dari pergulatan antar individu ketimbang daya-daya yang bertentangan dalam diri indvidu.
-bukan membicarakan sebab-akibat tetapi  fungsi sistem yang didalamnya terdapat beragam proses dimana fungsi mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh unit-unit lain.
-perilaku tidak akan dapat dipahami tanpa melihat dimana perilaku itu terjadi.

beberapa prinsip dalam keluarga sebagai sistem
a. sistem
komponen/bagian yang ssaling berkaitan dengan setiap unti dibatasi dengan atau bergantung pada unti lainnya. didalam setiap unti terdapat bagian yang memiliki kesamaan,  sistem memberi konteks untuk memahami relasi antar komponen.
b. organisasi
unti yang lebih kecil dari sistem membentuk subsistem  yang secara keseluruhan membentuk keluarga. teroragnisasi berdasarkan umur, gender, generasi.
c. wholeness
keseluruhan yang lebih besar  daripada sekedar penjumlahan.
d. interdependensi
setiap anggota keluarga saling mempengaruhi dan dipengaruhi anggota keluarga lain dan re;asi antar anggota keluarga.
e. strategi dan aturan.
dibuat agar tiao anggot keluarga melakukan tugasnya dengan baik.

Sexual Disorders

    Tingkah laku seksual yang merupakan psychological disorder:
1. Menyebabkan kerugian pada orang lain

2. Menyebabkan distress atau impairement yang berulang/menetap pada fungsi-fungsi dalam area penting pada individu. 

I.                   PARAPHILIAS
Individu yang memiliki simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dan dorongan seksual atau tingkah laku yang melibatkan:
1.      Objek bukan manusia
2.      Anak atau orang lain yang tidak dikenal
3.      Menyebabkan penderitaan atau memalukan diri orang lain

1.1  Pedophilia
Kriteria Diagnostik :
a.          Selama minimal 6 bulan menunjukkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan,perilaku seksual yang melibatkan anak-anak ataupun usia pra-puber (biasanya usia 13 tahun atau lebih muda)
b.      Fantasi/, dorongan ataupun perilaku seksualnya itu menyebabkan stress ataupun impairment
c.       Pelakunya berusia minimal 16 tahun, atau setidaknya 5 tahun lebih tua dari korban
d.      Tingkah laku pedophilic dikarakteristikan oleh ketertarikan seksual pada wanita, laki-laki, atau keduanya.
e.       Tidak selalu terbatas pada saudara
f.       Tidak selalu secara eksklusif terbatas pada ketertarikan seksual terhadap anak-anak
Beberapa pedophilic yang tidak mengeluarkan impulsnya, memiliki fantasi yang mengganggu dan memiliki kecenderungan untuk menyiksa anak-anak
Pedophilic yang mengeluarkan impulsnya biasanya melakukan tindakan: menelanjangi anak, menyentuh alat genital, meminta anak melakukan aktivitas sex oral, melakukan intercourse vaginal atau anal

1.1  Exhibitionism

Kriteria Diagnostik :
a.       Selama minimal 6 bulan menunjukkan simptom yang berulang/ menetap berupa adanya fantasi, dorongan ataupun perilaku seksual berupa memperlihatkan organ genitalnya kepada orang asing/ tidak dikenal
b.      Fantasi/dorongan ataupun perilaku seksualnya itu menyebabkan stress ataupun kesulitan dalam relasi interpersonal
Exhibitionist pada kenyataannya tidak mengharapkan reaksi seksual dari orang lain tetapi mencari perasaan “shock” atau ketakutan dari orang lain yang melihatnya
Beberapa exhibitionist memiliki fantasi bahwa orang yang melihatnya akan menjadi tergugah secara sexual
Bedakan antara exhibitionist dengan “exhibit behavior” (kondisi neurologis dimana individu memiliki kelemahan dalam kapasitas inhibitory) atau dengan tingkah laku pelanggaran sosial (spt. Orang yang telanjang di pantai atau penari telanjang

1.2  Fetishism

Kriteria Diagnostik :
a.       Selama minimal 6 bulan menunjukkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan,perilaku seksual yang melibatkan objek/benda mati (contohnya: pakaian dalam wanita)
b.      Fantasi/ dorongan ataupun perilaku seksual itu menyebabkan stress ataupun kesulitan dalam relasi interpersonal
c.       Objek yang digunakan tidak terbatas pada atribut/pakaian wanita seperti yang terjadi pada Transvest Fetishism, atau objek yang digunakan tdk didisain khusus untuk menstimulasi area genital (contoh: vibrator)
Objek yang biasa digunakan spt, baju, pakaian dalam, stocking, sepatu/boots; dapat juga karet, objek yang berbahan kulit, popok, pin, bahkan potongan anggota badan
PARTIALISM, salah satu macam fetishism; orang dengan partialism tertarik pada bagian yang spesifik pada tubuh, seperti kaki
Fetishist menjadi terangsang apabila menggunakan objek tersebut, menciuminya, menyentuhnya, atau melihat orang lain menggunakannya. 

1.3  Frotteurism

Kriteria diagnostik :
a.       Selama minimal 6 bulan menunjukkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan,perilaku seksual yang berupa penyentuhan atau perabaan pada orang lain
b.      Fantasi/, dorongan ataupun perilaku seksualnya itu menyebabkan stress ataupun kesulitan dalam relasi interpersonal

l  Frotteur biasanya mencari tempat yang ramai, seperti halte bis, dimana mereka dapat memilih korban yang akan mereka raba sampai mencapai ejakulasi
l  Ketika sedang meraba orang lain frotteur berfantasi bahwa mereka terlibat dalam hubungan yang dekat dan intim
l  Untuk menghindari penyergapan, dia bertindak cepat dan bersiap melarikan diri sebelum korban menyadari apa yang sebenarnya terjadi

1.4  Sexual Masochism and Sexual Sadism

Kriteria Diagnostik, Sexual Masochism :
a.       Selama lebih dari 6 bulan memunculkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan,perilaku seksual (nyata ataupun tidak), berupa penerimaan penghinaan, perlakuan kasar, pukulan ataupun tindakan lain yang menyebabkan penderitaan
b.      fantasi/, dorongan ataupun perilaku seksual itu menyebabkan stress ataupun kesulitan area sosial, pekerjaan atau lainnya.

Kriteria Diagnostik, Sexual Sadism :
a.       Selama lebih dari 6 bulan memunculkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan,perilaku seksual (nyata ataupun tidak), yang diakibatkan adanya penderitaan psikologis ataupun fisiologis  yang dialami oleh korbannya
b.      Fantasi/, dorongan ataupun perilaku seksualnya itu menyebabkan stress ataupun kesulitan area sosial, pekerjaan atau lainnya.

SADOMASOCHIST : Individu yang menampilkan kesenangan seksual dari keduanya, menciptakan dan menerima rasa sakit. Orang dengan gangguan ini memainkan peran sadistic dan masochistic

1.5  Transvestic Fetishism

Kriteria Diagnostik :
a.       Pria selama lebih dari 6 bulan memunculkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan, perilaku seksual yang disebabkan pemakaian atribut/pakaian seperti wanita
b.      Fantasi/, dorongan ataupun perilaku seksual itu menyebabkan stress ataupun kesulitan area sosial, pekerjaan atau lainnya.
Ditemukan hanya pada pria
Bisa menggunakan salah satu pakaian wanita (cross-dressing), spt pakaian dlm, atau memakai keseluruhannya termasuk menggunakan dada buatan, make-up, wigs, sepatu, dan aksesoris lainnya.
Fenomena yg berhubungan dg transvestic Fetishism adalah autogynephilia, laki-laki yg memiliki kegairahan seksual dari pikiran atau image dirinya yg memiliki anatomi wanita atau mengalami fungsi-fungsi biologis wanita, spt menstruasi, melahirkan dan menyusui.

1.6  Voyeurism

Kriteria Diagnostik:
a.       Selama lebih dari 6 bulan memunculkan simptom berulang/menetap berupa adanya fantasi, dorongan perilaku seksual yang disebabkan adanya pengamatan terhadap orang lain yang sedang telanjang, berhubungan sex, pada saat korbannya tidak menyadarinya (ngintip)
b.      Fantasi /, dorongan ataupun perilaku seksual itu menyebabkan stress ataupun kesulitan area sosial, pekerjaan atau lainnya.